Minggu, 05 Februari 2012

makalah filsafat tentang tiga masalah utama dalam filsafat


 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Perkembangan zaman berlangsung begitu cepat. Masyarakat berjalan secara dinamis mengiringi perkembangan zaman tersebut. Seiring dengan hal itu, filsafat sebagai suatu kajian ilmu juga berkembang dan melahirkan tiga dimensi utama sekaligus sebagai obyek kajiannya. Ketiga dimensi utama filsafat ilmu ini adalah ontologi (apa yang menjadi obyek suatu ilmu), epistemologi (cara mendapatkan ilmu), dan aksiologi (untuk apa ilmu tersebut). Ontologi merupakan hakikat yang ada, yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran. Epistemologi adalah sarana, sumber, tata cara untuk menggunakannya dengan langkah-langkah progresinya menuju pengetahuan (ilmiah). Adapun aksiologi adalah nilai-nilai sebagai tolok ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normatif dalam penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu. Adapun ruang lingkup filsafat ilmu meliputi:
Ø  komparasi kritis sejarah perkembangan ilmu;
Ø  sifat dasar ilmu pengetahuan;
Ø  metode ilmiah;
Ø  anggapan-anggapan ilmiah;
Ø  sikap etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
            Filsafat bertugas memberi landasan filosofik untuk memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmiah.[1] Secara substantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dari disiplin ilmu masing- masing, agar dapat menampilkan teori substantif. Selanjutnya, secara teknis diharapkan dengan dibantu metodologi, pengembangan ilmu dapat mengopera- sionalkan pengembangan konsep tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing- masing.

B.     Rumusan Masalah
Di dalam Makalah ini mengupas tentang :
Ø  pengertian ontologi dan apa yang dibahas di dalamnya
Ø  pengertian epistemologi dan masalah-masalah yang ada di dalamnya
Ø  pengertian aksiologi serta masalah-masalah didalamnya.

C.       Tujuan penulisan makalah ini antara lain:
Ø  mengkaji secara mendalam berbagai pengertian ontologi ilmu.
Ø  mengkaji ontologi sebagai dasar pemikiran filsafat.
Ø  mengkaji persoalan epistemologi.
Ø  mengkaji kaitan epistemologi dan cara memperoleh kebenaran/ilmu.
Ø  mengkaji epistemologi sebagai kunci pengembangan ilmu.
Ø  mengkaji pengertian aksiologi.




























BAB II
PEMBAHASAN

Tiga (3) Masalah Utama Dalam Filsafat
            Seperti yang telah dikemukakan terdahulu bahwa filsafat berfikir radikal,sistematis, dan universal tentang sesuatu. Jadi, yang menjadi obyek pemikiran filsafat adalah segala sesuatu yang ada. Segala yang ada merupakan bahan pemikiran filsafat karena, filsafat merupak usaha berfikir manusia secara sistematis. Disini kita perlu mensistematiskan segala sesuatu yang ada.
            Al-Syaibany mendefenisikan filsafat sebagai usaha mencari yang hak dan mengenai kebenaran, atau usaha untuk mengetahui sesuatu yang berwujud, atau usaha untuk mengetahui tentang nilai segala sesuatu yang mengelilingi manusia dalam alam semesta.[2] Filsafat membahas yaitu masalah wujud, pengetahuan, dan masalah nilai. Tiga masalah utama dalam filsafat yaitu, ontology, efistemology, dan eksiologi.

A.    Ontology
Ø  Pengertian
            Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filosof yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
            Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kuasa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan.[3] Ontologi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Obyek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau panca indera. Dengan demikian, obyek ilmu adalah pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata. Pengertian ini didukung pula oleh pernyataan Runes bahwaontology is the theory of being qua being, artinya ontologi adalah teori tentang wujud.
            Obyek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa obyek formal dari ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Hal senada juga dilontarkan oleh Jujun Suriasumantri, bahwa ontologi membahas apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada.[4]

Ø  Beberapa Konsep Mengenai Ontologi Ilmu
            Ontologi sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat benda bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “apa sebenarnya realitas benda itu? Apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak?”. Dari teori hakikat (ontologi) ini kemudian muncullah beberapa aliran dalam filsafat, antara lain:
·         Filsafat Materialisme
·         Filsafat Idealisme
·         Filsafat Dualisme
·         Filsafat Skeptisisme
·         Filsafat Agnostisisme
pokok permasalahan yang menjadi obyek kajian filsafat mencakup tiga segi, yaitu :
·         Logika (Benar- Salah)
·         Etika (Baik-Buruk)
·         Estetika (Indah-Jelek).
             Argumen ontologis ini pertama kali dilontarkan oleh Plato (428-348 SM) dengan teori ideanya. Menurut Plato, tiap-tiap yang ada di alam nyata ini mesti ada ideanya. Idea yang dimaksud oleh Plato adalah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu. Plato mencontohkan pada seekor kuda, bahwa kuda mempunyai idea atau konsep universal yang berlaku untuk tiap-tiap kuda yang ada di alam nyata ini, baik itu kuda yang berwarna hitam, putih ataupun belang, baik yang hidup ataupun sudah mati. Idea kuda itu adalah faham, gambaran atau konsep universal yang berlaku untuk seluruh kuda yang berada di benua manapun di dunia ini. Demikian pula manusia punya idea. Idea manusia menurut Plato adalah badan hidup yang kita kenal dan bisa berpikir. Dengan kata lain, idea manusia adalah ”binatang berpikir”. Konsep binatang berpikir ini bersifat universal, berlaku untuk seluruh manusia besar-kecil, tua-muda, lelaki-perempuan, manusia Eropa, Asia, India, China, dan sebagainya.
            Tiap-tiap sesuatu di alam ini mempunyai idea. Idea inilah yang merupakan hakikat sesuatu dan menjadi dasar wujud sesuatu itu. Idea- idea itu berada dibalik yang nyata dan idea itulah yang abadi. Benda-benda yang kita lihat atau yang dapat ditangkap dengan panca indera senantiasa berubah. karena itu, ia bukanlah hakikat, tetapi hanya bayangan. Dengan kata lain, benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indera ini hanyalah khayal dan illusi belaka.
            Argumen ontologis kedua dimajukan oleh St. Augustine (354– 430 M). Menurut Augustine, manusia mengetahui dari pengalaman hidupnya bahwa dalam alam ini ada kebenaran. Namun, akal manusia terkadang merasa bahwa ia mengetahui apa yang benar, tetapi terkadang pula merasa ragu-ragu bahwa apa yang diketahuinya itu adalah suatu kebenaran. Menurutnya, akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada suatu kebenaran tetap (kebenaran yang tidak berubah-ubah), dan itulah yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dalam usahanya mengetahui apa yang benar. Kebenaran tetap dan kekal itulah kebenaran yang mutlak. Kebenaran mutlak inilah oleh Augustine disebut Tuhan.       Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya). Ontologi sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat benda bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “apa sebenarnya realitas benda itu? apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak?”. Dari teori hakikat (ontologi) ini kemudian muncullah beberapa aliran dalam persoalan keberadaan, yaitu:
1.    Keberadaan dipandang dari segi jumlah (kuantitas), menimbulkan beberapa akiran, yaitu :
Ø  Monisme, aliran yang menyatakan bahwa hanya satu keadaan fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau substansi lainnya yang tidak dapat diketahui.
Ø  Dualisme (serba dua), aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-masing berdiri sendiri. Misal dunia indera (dunia bayang-bayang) dan dunia intelek (dunia ide).
Ø  Pluralisme (serba banyak), aliran yang tidak mengakui adanya sesuatu substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi, misalnya hakikat kenyataan terdiri dari empat unsur yaitu udara, api, air dan tanah
2.      Keberadaan dipandang dari segi sifat, menimbulkan beberapa aliran, yaitu:
Ø  Spiritualisme, mengandung arti ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh yaitu roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam.
Ø  Materialisme, adalah pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata kecuali materi.
3.      Keberadaan dipandang dari segi proses, kejadian, atau perubahan
Ø  Mekanisme (serba mesin), menyatakan bahwa semua gejala atau peristiwa dapat dijelaskan berdasarkan asas mekanik (mesin).
Ø  Teleologi (serba tujuan), berpendirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah kaidah sebab akibat tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan alam ke suatu tujuan.
Ø  Vitalisme, memandang bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara fisika, kimia, karena hakikatnya berbeda dengan yang tak hidup.
Ø  Organisisme (lawannya mekanisme dan vitalisme). Menurut organisisme, hidup adalah suatu struktur yang dinamik, suatu kebulatan yang memiliki bagian-bagian yang heterogen, akan tetapi yang utama adalah adanya  sistem yang teratur.

B.     Epistemologi
1.      Pengertian Epistemologi
            Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani kuno, dengan asal kata “episteme” yang berarti pengetahuan dan “logos” yang berarti teori’. Secara etimologi, epistemologi berarti teori pengetahuan. Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan ruang linkup pengetahuan, tentang asal, struktur, metode serta keabsahan pengetahuan.[5] Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuasaan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya para filosof pra Sokrates, yaitu filosof pertama di alam tradisi Barat, tidak memberikan perhatian pada cabang filsafat ini sebab mereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahan, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam.
            Epistomologi mengkaji mengenai apa sesungguhnya ilmu, dari mana sumber ilmu, serta bagaimana proses terjadinya. Dengan menyederhanakan batasan tersebut, Brameld mendefinisikan epistomologi memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-muridnya”.[6] Disamping itu banyak sumber yang mendefinisikan pengertian Epistomologi diantarannya:
»        Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan.
»        Epistomologi adalah pengetahuan sistematis yang membahas tentang
terjadinnya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan,
metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran
pengetahuan (Ilmiah).
»          Epistomologi adalah cabang atau bagian filsafat yang membicarakan tentang
pengetahuan yaitu tentang terjadinnya pengetahuan dan kesahihan atau
kebenaran pengetahuan.
»          Epistomologi adalah cara bagaimana mendapatkan pengetahuan, sumber-
sumber pengetahuan, ruang lingkup pengetahuan.

            Manusia dengan latar belakang, kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan- kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti :
·         Dari manakah saya berasal?
·         Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam?
·         Apa hakikat manusia?
·         Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia?
·         Mana pemerintahan yang benar dan adil?
·         Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih?
·         Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya?
            Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. Pada dasarnya, manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa:
»        Hakikat itu ada dan nyata;
»        kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu;
»        hakikat itu bisa dicapai, diketahui, dan dipahami;
»        manusia bisa memiliki ilmu, pengetahuan, dan makrifat atas hakikat itu. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya, dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia.

Dibawah ini ada beberapa metode agar dapat memperoleh pengetahuan :
1.        Metode Empiris
            Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
            Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.

2.      Metode Rasionalisme
            Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.

3.      Fenomenalisme
            Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.

4.        Intusionisme
            Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dari dalam dirinya sendiri pada saat iya menghayati sesuatu. Pengetahuan intuitif muncul secara tiba-tiba dalam kesadaran manusia. Mengenai proses terjadinya, manusia itu sendiri tidak menyadarinya. Pengetahuan ini sendiri hasil penghayatan pribadi sebagai hasil ekpresi keunikan dan individualitas seseorang.
            Dalam pengertian secara umum, intuisi merupakan metode untuk memperoleh pengetahuan tidak berdasarkan pengalaman rasio, dan pengamatan indra. Dalam filsafat paham ini bertujuan agar manusia dapat memperoleh kebenaran yang hakiki. Menurut kaum intuisionisme, dengan intuisi kita akan mengetahui dan menyadari diri kita sendiri, mengetahui karakter perasaan orang lain dan motif orang lain.[7]

5.      Metode Kontemplatif
            Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkanpun akan berbeda-beda seharusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang lewat ini bisa diperoleh dengan cara seperti yang dilakukan Imam Al-Ghazali. intuisi dalam tasawuf disebut dengan ma'rifah yaitu penge­tahuan yang datang dari Tuhan melalui pencerahan dan penyiaran Al-Ghazali menerangkan bahwa pengetahuan intuisi atau malimpah yang disinarkan oleh Allah secara langsung merupakan pengetahuan yang paling benar. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini hanya bersifat individual dan tidak bisa dipergunakan untuk mencari keuntungan seperti ilmu pengetahuan yang dewasa ini bila dikomersilkan.[8]

6.      Metode Dialektis
            Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Plato mengartikannya diskusi logika. Kini dialekta berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam metode peraturan, juga analisis sistematika tentang ide mencapai apa yang terkandung dalam pandangannya.
            Dalam kehidupan sehari-hari diaektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak terasa dan satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan. Berdebat  paling kurang dua pendapat. Hegel menggunakan metode dialektis untuk menjelaskan filsafatnya, lebih luas dari itu. Menurut Hegel dalam realitas ini berlangsung dialektika.
            Ada juga beberapa teori yang dapat dijadikan acuan apakah pengetahuan itu benar atau salah, yaitu :
1.      Teori Korespodensi
            Menurut teori ini kebenaran merupakan persesuaian antara fakta dan situasi nyata. Kebenaran merupakan persesuaian antara pernyataan dan pemikiran sengan situasi lingkungannya.
2.      Teori koherensi
            Menurut teori ini kebenaran bukan persesuaian antara pemikiran dan kenyataan melainkan persesuaian secara harmonis antara pendapat/pikiran kita dengan pengetahuan yang telah kita miliki.
            Jenis–jenis pengetahuan dapat dibedakan menjadi tiga (3), yaitu :
·         Filsafat
            Sering dikatakan bahwa filsafat adalah induk segala ilmu. Pernyataan ini tidak salah karena ilmu-ilmu yang ada sekarang, baik ilmu alam maupun ilmu sosial,  mulanya berada dalam kajian filsafat. Pada zaman dulu tidak dibedakan antara ilmuwan dengan filosof. Isaac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisikanya dalam buku yang berjudul Philosophie Naturalis Principia Mathematica (terbit 1686). Adam Smith (1723-1790) bapak ilmu ekonomi menulis buku The Wealth of Nations (1776) dalam kapasitasnya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow. Kita juga mengenal Ibnu Sina (w.1037) sebagai bapak kedokteran yang menyusun ensiklopedi besar al-Qanun fi al-Thibb sekaligus sebagai filosof yang mengarang Kitab al-Syifa’.
            Definisi filsafat tidak akan diberikan karena para ahli sendiri berbeda-beda dalam merumuskannya. Cukup di sini disinggung mengenai ciri-ciri dari filsafat, sebagaimana diuraikan Suriasumantri (1998), yaitu menyeluruh (membahas segala hal atau satu hal dalam kaitannya dengan hal-hal lain), radikal (meneliti sesuatu secara mendalam, mendasar hingga ke akar-akarnya), dan spekulatif (memulai penyelidikannya dari titik yang ditentukan begitu saja secara apriori). Spekulatif juga bermakna rasional.
            Objek kajian filsafat sangat luas, bahkan boleh dikatakan tak terbatas. Filsafat memelajari segala realitas yang ada dan mungkin ada; lebih luas lagi, segala hal yang mungkin dipikirkan oleh akal. Sejauh ini, terdapat tiga realitas besar yang dikaji filsafat, yakni Tuhan (metakosmos), manusia (mikrokosmos), dan alam (makrokosmos). Sebagian objek filsafat telah diambil-alih oleh sains, yakni objek-objek yang bersifat empiris.

·         Agama
            Agama kerap “berebutan” lahan dengan filsafat. Objek agama dalam banyak hal hampir sama dengan filsafat, hanya lebih sempit dan lebih praktis. Seperti filsafat, agama juga membahas Tuhan, manusia, dan alam. Seperti filsafat, agama juga menyoal metafisika, namun jawabannya sudah jelas: hakikat segala sesuatu adalah Tuhan. Selain Tuhan, objek pokok dari agama adalah etika khususnya yang bersifat praktis sehari-hari.
            Yang membedakan agama dari filsafat terutama adalah epistemologi atau metodenya. Pengetahuan agama berasal dari wahyu Tuhan yang diberikan kepada Nabi, dan kita memerolehnya dengan jalan percaya bahwa Nabi benar. Pada agama, yang harus kita lakukan adalah beriman, baru berpikir. Kita boleh memertanyakan kebenaran agama, setelah menerima dan memercayainya, dengan cara lain (rasional atau empiris). Tapi ujung-ujungnya kita tetap harus percaya meskipun apa yang disampaikan agama itu tidak masuk akal atau tidak terbukti dalam kenyataan. Jawaban yang diberikan agama atas satu masalah bisa sama, berbeda, atau bertentangan dengan jawaban filsafat. Dalam hal ini, latar belakang keberagamaan seorang filosof sangat memengaruhi. Jika ia beragama, biasanya ia cenderung mendamaikan agama dengan filsafat, seperti tampak pada filsafat skolastik, baik filsafat Yahudi, Kristen, maupun Islam. Jika ia tidak beragama, biasanya filsafatnya berbeda atau bertentangan dengan agama.
            Secara praktis, agama sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Fungsi utama agama adalah sebagai sumber nilai (moral) untuk dijadikan pegangan dalam hidup budaya manusia. Agama juga memberikan orientasi atau arah dari tindakan manusia. Orientasi itu memberikan makna dan menjauhkan manusia dari kehidupan yang sia-sia. Nilai, orientasi, dan makna itu terutama bersumber dari kepercayaan akan adanya Tuhan dan kehidupan setelah mati. (Coba perhatikan, dalam Alquran, objek iman yang paling banyak disebut bahkan selalu disebut beriringan adalah iman kepada Allah dan hari kemudian).

·         Sains
            Sains (dalam bahasa Indonesia disebut juga ilmu, ilmu pengetahuan, atau pengetahuan ilmiah) adalah pengetahuan yang tertata (any organized knowledge) secara sistematis dan diperoleh melalui metode ilmiah (scientific method). Sains memelajari segala sesuatu sepanjang masih berada dalam lingkup pengalaman empiris manusia. Objek sains terbagi dua, objek material dan objek formal. Objek material terbatas jumlahnya dan satu atau lebih sains bisa memiliki objek material yang sama. Sains dibedakan satu sama lain berdasarkan objek formalnya. Sosiologi dan antropologi memiliki objek material yang sama, yakni masyarakat. Namun objek formalnya beda. Sosiologi memelajari struktur dan dinamika masyarakat, antropologi memelajari masyarakat dalam budaya tertentu.
            Sains atau ilmu dibedakan secara garis besar menjadi dua kelompok, yaitu ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences). Ilmu-ilmu alam memelajari benda-benda fisik, dan secara garis besar dibedakan lagi menjadi dua, yaitu ilmu alam (fisika, kimia, astronomi, geologi, dll) dan ilmu hayat (biologi, anatomi, botani, zoologi, dll). Tiap-tiap cabang ilmu itu bercabang-cabang lagi menjadi banyak sekali.
            Sains diperoleh melalui metode sains (scientific method) atau biasa diterjemahkan menjadi metode ilmiah. Metode ini menggabungkan keunggulan rasionalisme dan empirisisme, kekuatan logika deduksi dan induksi, serta mencakup teori kebenaran korespondensi, koherensi, dan pragmatik. Karena penggabungan ini, sains memenuhi sifat rasional sekaligus empiris. Sains juga bersifat sistematis karena disusun dan diperoleh lewat suatu metode yang jelas. Bagi kaum positivis, sains juga bersifat objektif, artinya berlaku di semua tempat dan bagi setiap pengamat. Namun sejak munculnya teori relativitas Einstein, apalagi pada masa postmodern ini, klaim objektivitas sains tidak bisa lagi dipertahankan.secara ringkas, metode ilmiah disusun menurut urutan sebagai berikut:
  • Menemukan dan merumuskan masalah
  • Menyusun kerangka teoritis
  • Membuat hipotesis
  • Menguji hipotesis dengan percobaan (observasi, eksperimen, dll).
  • Menarik kesimpulan.
Kesimpulan yang diperoleh itu disebut teori. Untuk benar-benar dianggap sahih dan bisa bertahan, sebuah teori harus diuji lagi berkali-kali dalam serangkaian percobaan, baik oleh penemunya maupun oleh ilmuwan lain. Pengujian ini disebut verifikasi (pembuktian benar). Sebuah teori bisa juga diuji dengan cara sebaliknya, yaitu sebagaimana diusulkan Karl Popper, falsifikasi (pembuktian salah). Dengan falsifikasi, jika untuk sebuah teori dilakukan 1000 percobaan, 1 saja dari 1000 percobaan itu menunjukkan adanya kesalahan, maka teori itu tidak perlu dipertahankan lagi. Contoh, jika dinyatakan kepada kita bahwa semua burung gagak hitam, dan di suatu tempat kita menemukan satu burung gagak yang tidak hitam, berarti pernyataan itu salah.
            Pengetahuan yang diperoleh lewat metode sains bukanlah terutama untuk pengetahuan itu sendiri, melainkan sebagai alat untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah sehari-hari. Kegunaan ini diperoleh dengan tiga cara, description (menjelaskan), prediction (meramal, memerkirakan), dan controling (mengontrol). Penjelasan diperoleh dari teori. Dihadapkan pada masalah praktis, teori akan memerkirakan apa yang akan terjadi. Dari perkiraan itu, kita memersiapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengontrol segala hal yang mungkin timbul, entah itu merugikan atau menguntungkan.
C.    Aksiologi
Ø  Pengertian
            Secara etimologis, istilah eksiologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, terdiri dari kata “aksios” yang berarti nilai dan “logos” yang berarti teori. Jadi, aksiologi merupakan cabang dari filsafat yang mempelajari nilai. Aksiologi mempelajari tentang hakikat nilai. Dalam hal ini aksiologi berkaitan dengan kebaikan dan keindahan tentang nilai dan penilaian. Hal ini merupakan bidang kajian tentang dari mana sumber nilai, akar dan norma serta nilai subsransif dan standar nilai. Etika berkaitan dengan kualitas, moralitas pribadi dan perilaku sosial. Drmikian pula etika merupakan penentuan perilaku yang baik, masyarakat yang baik dan kehidupan yang baik.[9]
            Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri.
            Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya:
·         untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan?
·         Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan?
·         Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan?
·         Apakah ilmu itu bermanfaat bagi manusia itu sendiri?
            Pertanyaan semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya; namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga, pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. Dan untuk menjawab pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral.
            Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan alam. Dangan mempelajari atom kita dapat memanfaatkan untuk sumber energi bagi keselamatan manusa, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia. Penciptaan bom atom akan meningkatkan kualitas persenjataan dalam perang, sehingga jika senjata itu dipergunakan akan mengancam keselamatan umat manusia.[10]
            Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain, terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo (1564-1642), oleh pengadilan agama tersebut, dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
            Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “segalanya punya moral,” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib, “asalkan kau mampu menemukannya.”[11]

Ø  Hakikat dan Makna Nilai
Pertanyaan mengenai hakikat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara:
»        Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif . Ditinjau dari sudut pandangan ini, nilai-nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung pada pengalaman-pengalaman mereka. Yang demikian ini dapat dinamakan “subjektivitas”.
»        Nilai merupakan kenyataan ditinjau dari segi ontologi, namun tidak terdapat
dalam ruang dan waktu . Nilai-nilai tersebut merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melaui akal. Pendirian ini dinamakan “obyektivitas logis”.
»        Nilai merupakan unsur-unsur obyektif yang menyusun kenyataan Pendirian ini disebut “obyektivitas metafisik”.

            Secara singkat dapat dikatakan bahwa “nilai” memiliki bermacam makna, diantaranya:
»        Mengandung nilai (artinya berguna)
»        Merupakan nilai (artinya “baik” atau “benar” atau “indah”)
»        Mempunyai nilai (artinya, merupakan obyek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap “menyetujui”, atau
»        mempunyai sifat nilai tertentu)
»        Memberi nilai (artinya, menanggapi sesuatu sebagai hal yang diinginkan atau
sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu).

Ø  Kegunaan dan Nilai Ilmu
            Kegunaan ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan. Tiap ilmu terutama dalam implementasinya selalu terkait dengan aksiologinya. Dalam hal ini akan dijelaskan seberapa jauh ilmu mempunyai peranan dalam membatu mencapai kehidupan manusia yang sejahtera di dunia ini atau apakah manfaat ilmu bagi kehidupan manusia di dunia ini. Manusia belajar dari pengalamannya dan berasumsi bahwa alam mengikuti hukum-hukum dan aturan-aturannya. Ilmu merupakan hasil kebudayaan manusia, dimana lebih mengutamakan kuantitas yang obyektif dan mengesampingkan kualitas subjektif yang berhubungan dengan keinginan pribadi sehingga dengan ilmu, manusia tidak akan mementingkan dirinya sendiri.
            Ilmu merupakan wahana dalam menjawab semua permasalahan (sampai batas tertentu), berdasarkan pemahaman yang dimiliki sekaligus ilmu mampu memprediksikan masa depan walaupun banyak hal yang kadang terjadi di luar dugaan. Peradaban manusia sekarang ini tak lepas dari perkembangan ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan ilmu dan teknologi, pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah di samping penciptaan kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, pengangkutan, pemukiman, pendidikan, dan komunikasi.
            Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang aksiologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan; untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?13 Oleh karena itu, pada tingkat aksiologis, pemahaman tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Nilai menyangkut etika, moral, dan tanggung jawab manusia itu sendiri. Oleh karena dalam penerapannya ilmu pengetahuan juga mempunyai efek negatif dan desktruktif, maka diperlukan aturan nilai dan norma untuk mengendalikan potensi nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan ilmu pengetahuan. Di sininlah etika menjadi ketentuan mutlak yang akan menjadi penyemangat yang baik bagi pengetahuan untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Etika adalah pembahasan mengenai baik, buruk, semestinya, benar atau salah. Hal ini bertalian dengan hati nurani, bernaung di bawah filsafat moral. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban, dengan asumsi bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia.









BAB III
ANALISIS

Dari pembahasan di atas yang dapat kami simpulkan :
1.        Ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.
2.        Epistemologi berusaha menjawab bagaimana proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3.          Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?












BAB IV
PENUTUP

A.    Simpulan
Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan :
            Ontologi membahas tentang apa yang diketahui oleh manusia. Karena tak mungkin yang tiada memberikan efek pada pikiran manusia, maka pasti yang tercermin dalam pikiran manusia adalah suatu realitas. Realitas (kenyataan) adalah segala sesuatu yang ada. Untuk memudahkan pemahaman manusia, kenyataan diidentifikasi menjadi dua hal yaitu kenyataan yang bisa diukur oleh manusia dan yang tidak bisa diukur oleh manusia. Yang bisa diukur secara kuantitatif oleh manusia disebut sebagai kenyataan materi, sedangkan kenyataan yang tidak bisa diukur secara kuantitatif manusia disebut sebagai kenyataan nonmateri. Dengan kata lain materi adalah kenyataan yang bisa diindera dan nonmateri adalah sebaliknya. Realitas materi mempunyai banyak ciri-ciri yaitu;
Ø  terbatas ruang dan waktu;
Ø  dapat dibagi;
Ø  tersusun oleh sesuatu yang lain;
Ø  memiliki ukuran kuantitatif (dapat diukur secara kuantitatif).
            Contoh dari realitas materi adalah kursi, mobil, pesawat, darah, atom dan lain sebagainya. Realitas non-materi mempunyai ciri kebalikan dari materi. Contoh dari realitas nonmateri adalah akal, jiwa, pikiran dll.           
            Epistemologi membahas tentang bagaimana seorang manusia mendapatkan pengetahuan. Pentingnya pembahasan ini berkaitan dengan apakah suatu ilmu apakah ia diperoleh dengan cara yang bisa didapatkan orang lain atau tidak. Jika tidak dapat diketahui orang lain maka pengetahuannya tidak dapat dipelajari oleh orang lain. Secara garis besar, dalam epistemologi cara mendapatkan pengetahuan ada dua yaitu secara ilmiah dan secara tidak ilmiah. Pengetahuan secara ilmiah bukan berarti lebih benar dari pengetahuan secara tidak ilmiah.
            Pembagian ini hanya didasarkan pada dapat atau tidaknya semua orang memperoleh pengetahuan tersebut. Pengetahuan secara ilmiah didapat melalui dua hal yaitu secara rasional dan secara empiris. Pengetahuan secara rasional berkaitan dengan cara mendapatkan pengetahuan berdasarkan kaidah-kaidah berpikir. Adapun pengetahuan secara empiris berkaitan dengan apakah suatu pengetahuan sesuai dengan kenyataan empirik. Semua manusia dapat melakukan kedua hal tersebut karena semua manusia memiliki potensi akal sekaligus potensi inderawi. Potensi akal manusia mutlak sama, sedangkan potensi inderawi manusia tidak mutlak sama tetapi mempunyai kemiripan yang erat. Pengetahuan yang didapatkan secara tidak ilmiah bisa terjadi dengan berbagai cara seperti melalui wahyu, intuisi, perasaan dan informasi dari orang yang dipercaya.
            Pengetahuan yang didapatkan dengan cara ini tidak dapat dipelajari oleh semua orang. Ia membutuhkan kebenaran ilmiah untuk meyakinkan orang- orang yang tidak mengalami hal yang sama dengan orang yang mempercayainya. Aksiologi membahas tentang nilai suatu pengetahuan. Nilai dari sesuatu tergantung pada tujuannya. Maka pembahasan tentang nilai pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari tujuannya. Masing-masing manusia memang mempunyai tujuan sendiri. Namun pasti ada kesamaan tujuan secara obyektif bagi semua manusia.
            Pembahasan tentang aksiologi begitu penting karena jika pengetahuan yang didapatkan manusia tidak dapat dipastikan atau dimutlakkan kebenarannya, maka bagaimana mungkin manusia dapat menyusun sebuah ilmu. Bagaimana pula manusia akan menentukan pilihan jika antara satu pilihan dengan pilihan lain bernilai sama, yaitu relatif. Pengertian relatif adalah jika sesuatu memiliki nilai yang berubah-ubah jika dibandingkan dengan sesuatu yang berbeda-beda. Misalnya 5 meter akan relatif panjang jika dibandingkan dengan 1 meter dan juga relatif pendek jika dibandingkan dengan 10 meter. Ketika manusia berpikir, maka pembanding dari pikiran tidak berubah-ubah yaitu kenyataan itu sendiri. Sehingga suatu pengetahuan hanya akan dihukumi dengan nilai benar atau salah. Jika suatu pengetahuan sesuai dengan realitasnya maka pengetahuan tersebut benar, begitu juga sebaliknya. Pembandingan kebenaran suatu pengetahuan dengan
pengetahuan lain yang berbeda-beda akan bernilai relatif.

B.     Saran
            Dari makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya kami pribadi. Yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk datangnya dari kami. Dan kami sedar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harafkan saran dan kritik nya yang bersifat membangun, untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya.





DAFTAR PUSTAKA

1.    Rizal Mustansyir dan Misnal Munir. (2001). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
2.    Drs. Usiono,MA, Aaliran-aliran Filsafat Pendidikan,2006. Penerbit Perdana Publishing. Jakarta.
3.    Suparlan Suhartono. Filsafat Pendidikan 2007. Yogyakarta: Kelompok Penerbit Ar- Ruzz Media. Hal 44
4.    Jujun S. Suriasumantri.2003.Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
5.    Drs. Usiono,M.A, Pengantar Filsafat Pendidikan ,2006. Hijri Pustaka Utama Jakarta.
6.    Mohammad Noor Syam. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan. Pancasila Usaha Nasional Surabaya.
7.    Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM.Filsafat Ilmu 2000.  Penerbit Liberty Yogyakarta.


[1] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir. Filsafat Ilmu 2001. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Hal  49-50
[2] Drs. Usiono,MA, Aaliran-aliran Filsafat Pendidikan,2006. Penerbit Perdana Publishing. Jakarta. Hal : 53
[3] Suparlan Suhartono. Filsafat Pendidikan 2007. Yogyakarta: Kelompok Penerbit Ar- Ruzz Media. Hal 44
[4] Jujun S. Suriasumantri.2003.Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.Hal 34-35
[5] Drs. Usiono,M.A, Pengantar Filsafat Pendidikan ,2006. Hijri Pustaka Utama Jakarta. Hal 58
[6] Mohammad Noor Syam. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan. Pancasila Usaha Nasional Surabaya. Hal 32
[7] Drs. Usiono,MA, Aliran-aliran Filsafat Pendidikan,2006. Penerbit Perdana Publishing. Jakarta. Hal 57
[8] Al-Ghazali, Setitik Cahaya Dalam Kegelapan, hlm. 32
[9] Drs. Usiono,M.A, Pengantar Filsafat Pendidikan ,2006. Hijri Pustaka Utama Jakarta. Hal 62-63
[10] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM.Filsafat Ilmu 2000.  Penerbit Liberty Yogyakarta.hal 91
[11] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996, hal.   34-35.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar