Minggu, 05 Februari 2012

makalah Filsafat tentang Filsafat dan Agama


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
            Agama dan filsafat memainkan peran yang mendasar dan fundamental dalam sejarah dan kehidupan manusia. Agama memang tidak mudah untuk di defenisikan karena agama mengambil bentuk yang bermacam-macam, namun semua orang berkesimpulan bahwa agama segala yang menunjukkan pada kesucian, rasa suci.[1]. Orang-orang yang mengetahui secara mendalam tentang sejarah agama dan filsafat niscaya memahami secara benar bahwa pembahasan ini sama sekali tidak membicarakan pertentangan antara keduanya dan juga tidak seorang pun mengingkari peran sentral keduanya. Sebenarnya yang menjadi tema dan inti perbedaan pandangan dan terus menyibukkan para pemikir tentangnya sepanjang abad adalah bentuk hubungan keharmonisan dan kesesuaian dua mainstream disiplin ini. Sebagian pemikir yang berwawasan dangkal berpandangan bahwa antara agama dan filsafat terdapat perbedaan yang ekstrim, dan lebih jauh, dipandang bahwa persoalan-persoalan agama agar tidak "ternodai" dan "tercemari" mesti dipisahkan dari pembahasan dan pengkajian filsafat. Tetapi, usaha pemisahan ini kelihatannya tidak membuahkan hasil, karena filsafat berhubungan erat dengan hakikat dan tujuan akhir kehidupan, dengan filsafat manusia dapat mengartikan dan menghayati nilai-penting kehidupan, kebahagian, dan kesempurnaan hakiki."[2]
            Sebagian pemikir yang berwawasan dangkal berpandangan bahwa antara agama dan filsafat terdapat perbedaan yang ekstrim, dan lebih jauh, dipandang bahwa persoalan-persoalan agama agar tidak "ternodai" dan "tercemari" mesti dipisahkan dari pembahasan dan pengkajian filsafat. Tetapi, usaha pemisahan ini kelihatannya tidak membuahkan hasil, karena filsafat berhubungan erat dengan hakikat dan tujuan akhir kehidupan, dengan filsafat manusia dapat mengartikan dan menghayati nilai-penting kehidupan, kebahagian, dan kesempurnaan hakiki.  
            Di samping itu, masih banyak tema-tema mendasar berkisar tentang hukum-hukum eksistensi di alam yang masih membutuhkan pengkajian dan analisa yang mendalam, dan semua ini yang hanya dapat dilakukan dengan pendekatan filsafat. Jika agama membincangkan tentang eksistensi-eksistensi di alam dan tujuan akhir perjalanan segala maujud, lantas bagaimana mungkin agama bertentangan dengan filsafat. Bahkan agama dapat menyodorkan asumsi-asumsi penting sebagai subyek penelitian dan pengkajian filsafat. Pertimbangan-pertimbangan filsafat berkaitan dengan keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi agama hanya akan sesuai dan sejalan apabila seorang penganut agama senantiasa menuntut dirinya untuk berusaha memahami dan menghayati secara rasional seluruh ajaran, doktrin, keimanan dan kepercayaan agamanya.
            Dengan demikian, filsafat tidak lagi dipandang sebagai musuh agama dan salah satu faktor perusak keimanan, bahkan sebagai alat dan perantara yang bermanfaat untuk meluaskan pengetahuan dan makrifat tentang makna terdalam dan rahasia-rahasia doktrin suci agama, dengan ini niscaya menambah kualitas pengahayatan dan apresiasi kita terhadap kebenaran ajaran agama. Walaupun hasil-hasil penelitian rasional filsafat tidak bertolak belakang dengan agama, tapi selayaknya sebagian penganut agama justru bersikap proaktif dan melakukan berbagai pengkajian dalam bidang filsafat sehingga landasan keimanan dan keyakinannya semakin kuat dan terus menyempurna, bahkan karena motivasi keimananlah mendorongnya melakukan observasi dan pembahasan filosofis yang mendalam terhadap ajaran-ajaran agama itu sendiri dengan tujuan menyingkap rahasia dan hakikatnya yang terdalam.

B.     Rumusan Masalah
            Agar tidak lari dari pembahasan, maka ada baiknya penyusun rumuskan masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah kami ini, antara lain :
1.      Pengertian filsafat dan agama
2.      Persamaan dan perbedaan filsafat.
            Inilah sub tema pokok yang akan penyusun bahas dalam makalah ini, walaupun nantinya ada pembahasan yang penyusun uraikan akan timbul permasalahan-permasalahan lain.

C.    Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan penulis menyusun makalah ini adalah :
1.      Agar mahasiswa mampu  memahami pengertian filsafat dan agama
2.      Mahasiswa mampu mengetahui apa saja hubungan dan perbedaan antara filsafat dan agama.
3.      Mahasiswa mampu mengetahui apa saja masalah-masalah yang timbul di dalam pembahasn filsafat dan agama.

BAB II
PEMBAHASAN
FILSAFAT DAN AGAMA
A.    Pengertian
            Sebelum kita membahas tentang filsafat dan agama, ada baiknya kita behas terlebih dahulu, pengertian filsafat dan agama.
1.      Pengertian Filsafat
            Filsafat diambil dari bahasa Arab yaitu فلسفة  , juga berasal dari bahasa Yunani berasal dari kata philosophia, kata mejemuk yang terdiri dari kata Philos yang artinya suka aytau cinta, dan kata Shopia yang artinya bijaksana. Dengan demikian, secara etimologis kata filsafat memberikan pengertian cinta kebijaksanaan. Orangnya disebut Philosopher atau Failasuf.[3] Filsafat bila dilihat dari segi pengertian praktisnya adalah alam berfikir. Berfilsafat artinya berfikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Filsafat juga diartikan sebagai suatu pendirian hidup, dan juga disebut pandangan hidup.[4]
            Tentang pengertian filsafat ada beberapa perbedaan tentang defenisinya oleh para ahli, antara lain :
·         Plato, menurut ia filsafat tidaklah lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.
·         Aristoteles, menurutnya filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metefisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
·         Marcum Tullius Cicero, ia mengemukakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang ilmu yang paling tinggi dan jalan untuk mencapai ilmu itu. Filsafat adalah induk dari segala ilmu dunia, ilmu kepunyaan yang maha agung.
·         Epicuros, ia memandang filsafat sebagai jalan untuk mencapai kepuasan dan kesenangan hidup. Ia berguna dalam praktek di dunia. Filsafat membentuk pandangan dunia dan sikap hidup.
·         Kant, bagi kant filsafat adalah pokok dan pangkal segala pengetahuan dan pekerjaan.
·         Al-Kindi, sebagai ahli filsafat pertama dalam Islam yang memberikan pengertian filsafat di kalangan umat Islam. Ia membagi filsafat dalam tiga lapangan, yaitu :
o   Ilmu fisika (ilmu at-Thibiyyat)
o   Ilmu matematika
o   Ilmu ketuhanan (ilmu Ar-Rububiyah).[5]

            Dari defenisi-defenisi di atas dapat di ambil pemahaman, antara lain :
ü  Filsafat berarti berfikir, jadi yang terpenting ialah proses dan hasil berfikir mendalam yang dilakukan manusia untuk mencapai kebenaran.
ü  Filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memahami
ü  Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang.
ü  Filsafat diumpamakan air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya.
ü  Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen walaupun argumennya sendiri.[6]

            Ada beberapa ciri-ciri utama agar pemikiran itu dapat dikatakan berfilsafat,  antara lain :
·         Universal
Pemikiran yang luas dan menyeluruh, tidak ada aspek tertentu saja.
·         Radikal
Pemikiran yang mendalam dan mendasar hingga sampai kepada hasil yang fundamental dan esensial.
·         Sistematis
Suatu uraian yang terperinci tentang sesuatu, menjelaskan mengapa sesuatu terjadi.
·         Kritis
Mempertanyakan segala sesuatu termasuk hasil filsafat, tidak menerima begitu saja apa yang dilihat sepintas, yang dikatakan dan dilakukan masyarakat.
·         Analisis
Mengulas dan mengkaji secara rinci dan menyeluruh tentang sesuatu.
·         Evaluatif
Upaya sungguh-sungguh dalam menilai dan menyikapi segala persoalan yang dihadapinya.
·         Spekulatif
Upaya akal budi manusia yang bersifat perekaan, penjelajahan dan pengandaian, tidak membatasi hanya pada rekaman indera dan pengamatan ilmiah.[7]

            Ada tiga (3) cabang Filsafat, yaitu :

Ø  Filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan:
Obyek material cabang filsafat ini adalah eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat). Filsafat ini terbagi dua, yaitu :
o   Metafisika umum (ontologi)
o   Metafisika khusus, terbagi menjadi tiga masalah pokok :
»        Antropologi (tentang manusia)
»        Kosmologi (tentang alam semesta)
»        teologi (tentang tuhan)

Ø  Filsafat tentang pengetahuan (Epistimologi)
Obyek material filsafat ini adalah pengetahuan ("episteme") dan kebenaran.

Ø  filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan
Obyek material filssfst ini adalah kebaikan dan keindahan. Terbagi menjadi dua (2) :
o   Etika
o   Estetika.[8]

2.      Pengertian Agama
          Kata agama berasal dari bahasa sansakerta yaitu a-gam-a, gam yang berarti pergi atau berjalan. Kata jalan dengan makna yang sama kita juga temukan pada peristilahan Islam, yaitu ; syariat, thariqah, shirathal.[9]Agama memang tidak mudah untuk diberi definisi karena agama mengambil berbagai bentuk yang bermacam-macam. Walaupun di akui bahwa tak ada defenisi agama yang dapat diterima secara universal, namun semua orang berkesimpulan bahwa sepanjang sejarah, manusia telah menunjukkan rasa suci, dan agama termasuk di dalamnya. Manusia mengagumi, menakuti dan menyembah yang suci dengan berbagai cara.
          Kata agama dalam Kitab suci Al-Qur'an dan hadits Nabi mempunyai makna antara lain: pahala dan balasan, ketaatan dan penghambaan, kekuasaan, syariat dan hukum, umat, kepasrahan dan penyerahan mutlak, aqidah, cinta, akhlak yang baik, kemuliaan, cahaya, kehidupan hakiki, amar ma'ruf nahi munkar, amanat dan menepati janji, menuntut ilmu dan beramal dengannya, dan puncak kesempurnaan akal. Agama ialah suatu sistem credo (tata keyakinan), ritus (peribadatan) dan sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan alam lainnya sesuai tata ketentuan yang telah ditetapkan.[10]
          Dari uraian di atas kita sudah menemukan empat buah unsur paling universal dari agama, yaitu :
·         Adanya keyakinan atas yang suci (sakral), sesuatu yang diluar kemampuan manusia.
·         Adanya aktivitas akibat hubungan manusia dengan dzat yang suci, berupa kewajiban ataupun pribadatan.[11]
·         Adanya doktrin tentang Yang Suci dan tentang hubungan tersebut.
·         Adanya sikap yang ditimbulkan oleh ketiga hal tersebut.[12]
         
            Agama merupakan kebutuhan yang esensial manusia dan bahkan bersifat universal. Tetapi sesungguhnya makna paling hakiki agama adalah kesadaran spritual yang di dalamnya ada satu kenyataan di luar kenyataan yang tampak, yaitu bahwa manusia selalu mengharap belas kasih-Nya, bimbingan-Nya, serta perlindungan-Nya yang secara ontologis tidak bisa dipunkiri walaupun manusia yang paling komunis sekalipun. Ada beberapa masalah yang berhubungan dengan  agama, yaitu :
·         Agama berasal dari Wahyu Tuhan.
·         Agama berarti mengabdikan diri,  jadi yang terpenting ialah hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan.
·         Agama menuntut pengetahuan untuk beribadah yang merupakan pondasi hubungan manusia dengan Tuhan.
·         Agama banyak berhubungan dengan hati.
·         Agama oleh pemeluknya akan dipertahankan dengan habis-habisan sebab mereka telah terikat dan mengabdikan diri.
·         Agama di samping memenuhi para pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, juga mempunyai efek yang menenangkan jiwa pemeluknya.[13]



            Kepercayaan tidak harus melalui pemikiran dan pengetahuan. Jadi agama hanyalah sekedar keyakinan dan kepercayaan saja. Akan tetapi bagi yang sangat menjiwai agama itu sendiri adalah keyakinan dan kepercayaan yang disertai dengan akal, pemikiran, penjelasan den pembuktian, sangat penting dan diperlukan. walaupun demikian, banyak orang yang pintar tentang kepercayaan, ahli teologi misalnya, tetapi tidak beragama. Sebaliknya ada orang yang malah tidak bisa menjelaskan kepercayaan agamanya, tetapi di anggap religius.[14]
            Religi juga merupakan kecenderungan asli rohani manusia yang berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir hakikat dari semua itu. Religi mencari makna dan nilai yang berbeda-beda sama sekali dari segala sesuatu yang dikenal. Karena itulah religi tidak berhubungan dengan yang kudus. Yang kudus itu belum tentu Tuhan atau dewa-dewa. Dengan demikian banyak sekali kepercayaan yang biasanya disebut religi, pada hal sebenarnya belum pantas disebut religi karena hubungan antara manusia dan yang kudus itu belum jelas. Religi-religi yang bersahaja dan Budhisma dalam bentuk awalnya misalnya menganggap Yang kudus itu bukan Tuhan atau dewa-dewa. Dalam religi betapa pun bentuk dan sifatnya selalu ada penghayatan yang berhubungan dengan Yang Kudus.[15]
            Manusia mengakui adanya ketergantungan kepada Yang Mutlak atau Yang Kudus yang dihayati  sebagai  kontrol bagi manusia. Untuk mendapatkan pertolongan dari Yang Mutlak itu  manusia secara bersama-sama men-jalankan ajaran tertentu. Jadi religi adalah hubungan antara manusia dengan Yang Kudus. Dalam hal ini yang kudus itu terdiri atas ber-bagai kemungkinan, yaitu bisa berbentuk benda, tenaga, dan bisa pula berbentuk pribadi manusia. Selain itu dalam al-Quran  terdapat kata din  yang menunjukkan pengertian agama. Kata din dengan akar katanya dal, ya dan nun diungkapkan dalam dua bentuk yaitu din dan dain. Al-Quran menyebut kata din ada menunjukkan arti agama dan ada menunjukkan hari kiamat, sedangkan kata dain diartikan dengan utang.
            Dalam tiga makna tersebut terdapat dua sisi yang berlainan dalam tingkatan, martabat atau kedudukan. Yang pertama mempunyai kedudukan, lebih tinggi, ditakuti dan disegani oleh yang kedua. Dalam agama, Tuhan adalah pihak pertama yang mempunyai kekuasaan, kekuatan yang lebih tinggi, ditakuti, juga diharapkan untuk memberikan bantuan dan bagi manusia. Kata din dengan arti  hari kiamat juga milik Tuhan dan manusia tunduk kepada ketentuan Tuhan. Manusia merasa takut terhadap hari kiamat sebagai milik Tuhan karena  pada waktu itu dijanji-kan azab yang pedih bagi orang yang berdosa.
            Adapun orang beriman merasa segan dan juga menaruh harapan mendapat rahmat dan ampunan Allah pada hari kiamat itu. Kata dain yang berarti utang juga terdapat pihak pertama sebagai yang berpiutang yang jelas lebih kaya dan yang kedua sebagai yang berutang, bertaraf rendah, dan merasa segan terhadap yang berpiutang. Dalam diri orang yang berutang pada dasarnya terdapat harapan supaya utangnya dimaafkan dengan arti tidak perlu dibayar, walaupun harapan itu jarang sekali terjadi. Dalam Islam manusia berutang kepada Tuhan berupa kewajiban melaksanakan ajaran agama.

B.     Filsafat dan Agama
            Agama dan filsafat memainkan peran yang mendasar dan fundamental dalam sejarah dan kehidupan manusia. Orang-orang yang mengetahui secara mendalam tentang sejarah agama dan filsafat niscaya memahami secara benar bahwa pembahasan ini sama sekali tidak membicarakan pertentangan antara keduanya dan juga tidak seorang pun mengingkari peran sentral keduanya. Sebenarnya yang menjadi tema dan inti perbedaan pandangan dan terus menyibukkan para pemikir tentangnya sepanjang abad adalah bentuk hubungan keharmonisan dan kesesuaian dua mainstream disiplin ini. Filasafat adalah sistem kebenaran tentang agama sebagai hasil dari berfikir secara radikal, sistematis dan universal. Dasar-dasar agama yang dipersoalkan dipikirkan menurut logika (teratur dan disiplin) dan bebas.[16]
            Ada beberapa permasalah dalam filsafat dan agama, baik dari segi hubungan atau persamaannya (titik temu), juga dari segi perbedaannya.

1.      Hubungan dan perbedaan Filsafat dengan Agama
            Abu Hayyan Tauhidi, dalam kitab al-Imtâ' wa al-Muânasah, berkata, "Filsafat dan syariat senantiasa bersama, sebagaimana  syariat dan filsafat terus sejalan, sesuai, dan harmonis". Ahmad bin Sahl Balkhi yang dipanggil Abu Yazid, dilahirkan pada tahun 236 Hijriah di desa Syamistiyan. Ketika baligh ia berangkat ke Baghdad dan mendalami Filsafat dan ilmu Kalam (teologi). Di samping ia berusaha memadukan syariat dan filsafat, ia juga meneliti agama-agama berbeda lalu ditulis dalam kitabnya yang dinamai Syarâyi' al-Adyân dan beberapa kitab lainnya.[17]
            Menurut Prof. Nasroen, S.H, ia mengemukakan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasarkan kepada agama. Malahan filsafat yang sejati itu terkandung dalam agama. Apabila filsafat tidak berdasarkan kepada agama dan filsafat hanya semata-mata berdasarkan akal dan pemikiran saja, maka filsafat tidak akan memuat kebenaran obyektif , karena yang memberikan pandangan dan keputusan hanyalah akal pikiran. Sedangkan kesanggupan akal pikiran ituterbatas, sehingga filsafat yang hanya berdasarkan kepada akal pikiran semata tidak akan sanggup memberikan kepuasan bagi manusia, terutama dalam tingkat pemahamannya terhadap yang gaib.[18]
            Sebagian pemikir yang berwawasan dangkal berpandangan bahwa antara agama dan filsafat terdapat perbedaan yang ekstrim, dan lebih jauh, dipandang bahwa persoalan-persoalan agama agar tidak "ternodai" dan "tercemari" mesti dipisahkan dari pembahasan dan pengkajian filsafat. Tetapi, usaha pemisahan ini kelihatannya tidak membuahkan hasil, karena filsafat berhubungan erat dengan hakikat dan tujuan akhir kehidupan, dengan filsafat manusia dapat mengartikan dan menghayati nilai-penting kehidupan, kebahagian, dan kesempurnaan hakiki.
            Di samping itu, masih banyak tema-tema mendasar berkisar tentang hukum-hukum eksistensi di alam yang masih membutuhkan pengkajian dan analisa yang mendalam, dan semua ini yang hanya dapat dilakukan dengan pendekatan filsafat. Jika agama membincangkan tentang eksistensi-eksistensi di alam dan tujuan akhir perjalanan segala maujud, lantas bagaimana mungkin agama bertentangan dengan filsafat. Bahkan agama dapat menyodorkan asumsi-asumsi penting sebagai subyek penelitian dan pengkajian filsafat.
            Dengan demikian, filsafat tidak lagi dipandang sebagai musuh agama dan salah satu faktor perusak keimanan, bahkan sebagai alat dan perantara yang bermanfaat untuk meluaskan pengetahuan dan makrifat tentang makna terdalam dan rahasia-rahasia doktrin suci agama, dengan ini niscaya menambah kualitas pengahayatan dan apresiasi kita terhadap kebenaran ajaran agama. Walaupun hasil-hasil penelitian rasional filsafat tidak bertolak belakang dengan agama, tapi selayaknya sebagian penganut agama justru bersikap proaktif dan melakukan berbagai pengkajian dalam bidang filsafat sehingga landasan keimanan dan keyakinannya semakin kuat dan terus menyempurna, bahkan karena motivasi keimananlah mendorongnya melakukan observasi dan pembahasan filosofis yang mendalam terhadap ajaran-ajaran agama itu sendiri dengan tujuan menyingkap rahasia dan hakikatnya yang terdalam.
            Antara kebenaran ilmu dan filsafat bersifat nisbi (relatif) karena ilmu pengetahuan terbatas pada objek, subjek dan metodologinya. Dan filsafat bersifat spekulatif yang juga tergantung pada dugaan para filsuf masing-masing tetapi tidak semua permasalahan bisa dijawab oleh agama.  Abul Hasan 'Amiri, salah seorang murid Abu Yazid Balkhi, adalah seorang filosof terkenal yang juga berupaya membangun keharmonisan antara agama dan filsafat. Ia memandang bahwa filsafat itu lahir dari argumentasi akal-pikiran dan dalam hal ini, akal mustahil melanggar perintah-perintah Tuhan.
            Abul Hasan 'Amiri menyatakan, "Akal mempunyai kapabilitas mengatur segala sesuatu yang berada dalam cakupannya, tetapi perlu diperhatikan bahwa kemampuan akal ini tidak lain adalah pemberian dan kodrat Tuhan. Sebagaimana hukum alam meliputi dan mengatur alam ini, akal juga mencakup alam jiwa dan berwenang mengarahkannya. Tuhan merupakan sumber kebenaran yang meliputi secara kodrat segala sesuatu. Cakupan kodrat adalah satu cakupan dimana Tuhan memberikan kepada suatu makhluk apa-apa yang layak untuknya. Dengan ini, dapat kesimpulan bahwa alam natural secara esensial berada dalam ruang lingkup hukum materi dan hukum materi juga secara substansial mengikuti jiwa, dan jiwa berada di bawah urusan akal yang membawa pesan-pesan Tuhan." Dapat disimpulkan bahwa hubungan filsafat dan agama, mencakup :
·         Filsafat menjelaskan makna wahyu Tuhan sampai mendekati makna yang sesungguhnya.
·         Mensistematisasikan, membetulkan dan memastikan ajaran agama yang berdasarkan wahyu.
·         filsafat dapat membantu agama dalam menghadapi masalah-masalah baru.
Adapun perbedaan antara filsafat dan agama antara lain :
·         penyelidikan agama dengan filsafat di dasarkan atas wahyu Allah, sedangkan filsafat kepada hasil pemikiran.
·         Kebenaran agama tergantung kepada kebenaran kepercayaan atas wahyu yang bersifat absolut, sedangkan filsafat kebenaran atas penyelidikan sendiri sebagai hasil pemikiran belaka jadi bersifat relatif dan terbatas.
·         Agama sebagai obyek pemikiran dikaji oleh filsafat, karena itu adalah filsafat agama, dan dalam memahami ajaran agama akan lahir pemikiran tentang agama.
·         Agama  memberikan pengetahuan yang lebih tinggi dari filsafat, karena pengetahuan yang tak ttercapai oleh pemikiran biasa karena demikian tingginya hal itu hanya dapat diketahui dengan wahyu.[19]


[1] Dr. Nur Ahmad fadhil Lubis, MA, Pengantar Filsafat Umum, Medan : IAIN Press, 2001. Hal 57
[2] Dikutip dari www.wisdoms4all.com/Indonesia
[3] Prof. Dr. Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta : Prenada Media, 2003. Hal 1-2
[4] Drs. Usiono, M.A, Pengantar Filsafat Pendidikan, Jakarta : Hijri Pustaka Utama, 2006. Hal 39-40
[5] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, 1992. Hal 16-18
[6] Drs. Usiono, M.A, Pengantar Filsafat Pendidikan, Jakarta : Hijri Pustaka Utama, 2006. Hal 65
[7] Dr. Nur Ahmad fadhil Lubis, MA, Pengantar Filsafat Umum, Medan : IAIN Press, 2001. Hal 12-13
[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat
[9] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, 1992. Hal 67
[10] http://free-makalah.blogspot.com/2010/07/hubungan-filsafat-dan-agama.html
[11] Dr. Nur Ahmad fadhil Lubis, MA, Pengantar Filsafat Umum, Medan : IAIN Press, 2001. Hal 57-58
[12] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, 1992. Hal 67-68
[13] Usiono, M.A, Pengantar Filsafat Pendidikan, Jakarta : Hijri Pustaka Utama, 2006. Hal 65-66
[14] Dr. Nur Ahmad fadhil Lubis, MA, Pengantar Filsafat Umum, Medan : IAIN Press, 2001. Hal 58-59
[15] Sidi Gazalba,  Ilmu Filsafat dan Islam tentang Manusia dan Agama, Jakarta : Bulan Bintang, 1978. Hal 101
[16] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, 1992. Hal
[17] http://free-makalah.blogspot.com/2010/07/hubungan-filsafat-dan-agama.html
[18] Drs. H. Ahmad Syadali, M.A, & Drs. Mudzakir, Filsafat Umum, Bandung : Pustaka Setia, 1999. Hal 37-38
[19] Usiono, M.A, Pengantar Filsafat Pendidikan, Jakarta : Hijri Pustaka Utama, 2006. Hal 67

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar